SETELAH 20 hari menanti sejak banjir menerjang kawasan Amfoang, Kabupaten Kupang, 23 Januari lalu, bantuan tanggap darurat akhirnya tiba di Amfoang melalui jalur laut, Kamis (12/2) dan Jumat (13/2). Bantuan berupa beras dan makanan instan itu mulai disalurkan ke desadesa yang diterjang banjir.
Camat Amfoang Barat Daya Oktovianus Bire, kepada VN, kemarin, mengatakan, bantuan tanggap darurat sudah tiba di Amfoang Barat Daya yang dibawa oleh perahu motor. Bantuan diturunkan di Tanjung Mas, Desa Bioba. “Pukul 08.00 pagi tadi (kemarin), perahu yang memuat dua ton beras dan 40 dos mie Instan sudah diturunkan di Tanjung Mas, Desa Bioba,” katanya.
Bantuan tersebut, kata dia, disalurkan setelah BPBD, Dinas Sosial dan Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Kupang menyewa perahu untuk mengangkut bantuan ke Amfoang. Dia menjelaskan, setelah diturunkan dari perahu, bantuan langsung didistribusikan kepada masyarakat dua desa yang terkena bencana dan kondisinya parah yakni Desa Bioba dan Desa Manubelon. Sementara Desa Nefoneut dan Letkole yang juga terkena banjir namun tidak parah, baru didistribusikan hari ini, dan Senin (16/2).
Apalagi, katanya, jarak tempuh ke dua desa tersebut cukup jauh dan harus menggunakan kendaraan untuk mendistribusikan bantuan. “Untuk dapat kendaraan tidak mudah saat ini karena BBM masih langka,” katanya. Camat Amfoang Utara Andreas Naisunis mengatakan, bantuan tanggap darurat hanya untuk korban banjir di Amfoang Barat Daya dan Amfoang Barat Laut. “Amfoang Utara tidak masalah dengan stok bahan makanan.
Kami hanya butuh pasokan BBM bisa lancar supaya harga tidak melambung. Selain itu akses jalan yang rusak diperbaiki supaya hargaharga tidak melambung,” katanya. Pendeta David Silvester Nufninu membenarkan bahwa bantuan tanggap darurat untuk masyarakat Amfoang sudah tiba kemarin pagi. “Tadi pagi sudah ada perahu yang datang bawa bantuan,” katanya.
Dia juga berharap agar jalan raya dan jembatan yang rusak segera diperbaiki agar arus transportasi kembali normal. Jika tidak, maka akan memicu kelangkaan bahan kebutuhan pokok dan melonjaknya harga. Dia menambahkan, aparat pemerintah kecamatan bersama warga Desa Manubelon sudah bergotong-royong menutup lubang pada bagian Jembatan Termanu yang putus agar bisa dilewati kendaraan bermotor. “Sampai saat ini kami masih mengharapkan bantuan alat berat untuk mengeruk Kali Siumolo tapi alat berat belum kunjung tiba.
Untuk wilayah Siumolo kami harus melewati tanah milik penduduk dan harus sewa. Untuk kendaraan roda dua berkisar Rp 50.000 ke bawah sedangkan untuk roda empat Rp 400.000 ke atas,” tuturnya. Dia meminta anggota DPRD yang berkunjung ke Amfoang untuk mencari jalan membantu masyarakat. “Jangan hanya habiskan uang jalan tapi tidak bisa bantu masyarakat,” katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar